Tentang Kasta, Taksu dan Mahdi dalam Budaya Bali

Berkesempatan Wawancara Dengan Seorang Pelajar Dari Bali

Selasa, 17 Maret 2010 saat itu aku sedang berjalan-jalan di sekitaran GSP untuk melihat-lihat anak-anak SMA yang sedang melakukan verifikasi untuk UM UGM 28 Maret 2010. Suasana mulai sepi karena sudah jam 14.00 dan hujan lumayan deras. Langkahku terhenti ketika ada seorang anak lelaki yang duduk termenung sendirian bermain hp sambil bersandar di dinding. Aku sapa dia, lalu aku duduk di sampingnya, aku dan dia mulai berkenalan hingga ngobrol sampai hampir satu setengah jam.

 

Berikut ini adalah cuplikan obrolan kami (transkrip) :

Saya : “Sendirian aja dhek ?” (untuk selanjutnya percakapan “saya” akan dicetak tebal dan percakapan Surya dibawahnya)

Iya mas, sendirian. Ini tadi habis verifikasi UM nunggu jemputan belum datang mas.

 

Oya namanya siapa?

Saya Surya mas, kalau mas?

 

Kalau saya Tyo, dari mana asalnya surya?

Dari Bali mas.

 

Wah dari Bali? Berarti kemarin (16 Maret 2010) Nyepi dong?

Iya mas, kebetulan saya penganut agama Hindu dan baru tadi pagi sampai  Jogja naik pesawat langsung ke sini.

 

Boleh tahu nama lengkapmu  Surya?

Nama lengkap saya Surya Mahardika, mau yang lebih panjang lagi mas?

Nama panjang saya I Dewa Gede Surya Mahardika Badung.

 

Wah, panjang ya namanya, apa arti nama kamu sur?

I Dewa Gede Surya Mahardika Badung, I Dewa itu nama Kasta, Gede artinya anak pertama, Surya Mahardika itu nama saya, lalu Badung adalah nama Keluarga.

 

Kalau boleh tahu, I Dewa itu termasuk golongan kasta yang mana?

Kasta dalam Hindu kan ada 4 mas, yaitu Brahmana (kaum Pemuka agama,red), Ksatria (pemimpin), Weisya  (pedagang) dan Sudra (rakyat biasa). Nah kebetulan saya di kasta Ksatria.

 

Saat ini Surya sekolah dimana?

Saya masih kelas 3 SMA mas, di SMA 4 Denpasar. Mohon doa restunya besok tanggal 28 saya ujian tulis di sini mas. Jadi besok tu sehabis UN selesai saya hari sabtunya langsung terbang ke jogja lagi dan minggu pagi bersiap untuk ujian tulis UGM.

 

 

Kemudian aku melihat berkas-berkas Ujian Tulis UGM nya, disana tertulis nama lengkapnya, tanggal lahir 2 Oktober1992, asal sekolah, dan pilihan jurusan. Aku lihat disana dia memilih pilihan pertama Kedokteran Umum.

 

Surya, ngomong-omong ini kan kamu milih jurusan kedokteran umum, kenapa milih kedokteran?

Karena gini, satu karena sejak saya kecil memang pengen jadi dokter, karena ya…ada kan saya punya kitab suci, nah dalam kitab suci itu ada bagian dari kesehatan  namanya Yayur Weda. Jadi saya ingin mengkorelasikan medical jaman sekarang dengan medical yang ada di kitab suci. Apakah itu bisa atau enggak, karena saya ingin  mencoba sesuatu hal-hal yang baru yang belum pernah dicoba oleh orang-orang. Di Yayur Weda itu memuat tentang ilmu-ilmu kesehatan jaman dahulu kala, dan ada beberapa yang sampai sekarang masih koheren dan masuk akal untuk diterapkan bersama ilmu-ilmu masa kini.

 

 

Oke sur, kembali ngomongin tentang Kasta. Aku mau Tanya, di dalam Hindu atau di Bali khususnya sistem kasta ini kan masih berlaku, aku bisa dijelaskan dikit gak?

Ya, mas gini ya saya ini memiliki Kasta Ksatria berdasarkan Wangsa. Dalam kasta, khususnya di  Bali ada Kasta berdasarkan Wangsa dan berdasarkan Warna. Saya ini Wangsanya Ksatria, tapi kasta saya berdasarkan warna saya Sudra karena saat ini saya tidak memimpin. Kalau saja misalnya gini, saya Nyoman atau Putu misalnya yang dalam Wangsa itu Sudra, tapi saya menjadi Gurbernur maka Kasta saya berdasarkan Warna adalah Ksatria.

 

Jadi kalau Wangsa itu bawaan lahir, kalau Warna adalah keadaan sekarang sur?

Ya, kalau Wangsa itu adalah keturunan, dari garis keturunan. Kebetulan nenek moyang saya adalah raja. Kalau warna adalah kasta berdasarkan keadaan sekarang. Tapi dalam pencantuman nama, itu berdasarkan Wangsa.

 

Kasta dan penggolongan kaum itu seperti  memisahkan status sosial dalam masyarakat, menurutmu bagaimana sur? lalu apakah golongan-golongan kasta ini akan membatasimu dalam bersosialisasi dengan kasta lain misalnya?

Ya, masalah ini sempat pula dibahas di Bali. Sempat pula ada yang ingin menghapus sistem kasta. Tapi menurut saya, kasta ini perlu dan masih perlu dilestarikan untuk mengetahui silsilah keluarga. Misalnya saya, oh ini lhoh sudah ada garis keturunannya dan supaya tidak hilang begitu saja. Tapi ada yang membuat jadi jelek, bukan dari kastanya tapi dari oknum-oknum kasta tersebut. Misalnya ada kasta ksatria yang dulu nenek moyangnya seorang raja, lalu ia sombong tidak mau bergaul dengan sudra misalnya. Itu efek yang ditimbulkan oleh oknum-oknum. Tapi sebagai raja yang baik, ksatria yang baik kan harusnya merangkul, coba kamu lebih senang mana tat kala ada seorang pemimpin yang senang bergaul dan merangkul rakyat jelata atau pemimpin yang arogan dan sombong? Pasti kan pemimpin dengan rendah hati akan lebih dicintai rakyatnya?

 

Seandainya ya sur, sistem kasta ini akan dihapuskan, bagaimana jadinya menurutmu?

Ya, misalnya sistem kasta ini dihapuskan maka taksu bali itu akan hilang.

 

Taksu? Apa itu Taksu?

Taksu itu misalnya gini, kita tertarik pada suatu barang, tapi kita tidak tahu apa yang menyebabkan kita tertarik. Sama misalnya seperti tari bali, pernah lihat tari bali? Sama seperti tari yang lain, tari bali memiliki taksunya sendiri dan tari lain juga memiliki taksunya sendiri. Jadi orang ketika akan melihat tari bali akan merasa beda, oh ini tari bali dia memiliki taksunya sendiri yang tidak dimiliki oleh taria yang lain. Itulah taksu, yakni energi yang ada di obyek tersebut yang membuat ketertarikan. Nah sekarang kenapa Bali itu menjadi terkenal, itu tak lain karena taksu Bali yang masih sangat melekat hingga saat ini.

 

Oke Sur, sekarang kembali ke keluarga. Punya adik sur? Atau kakak?

Saya punya adik cewek, sekarang kelas 1 SMA.

 

Nama adikmu siapa sur?  

Adik saya, I Dewa Ayu Dwi Indah Cahyani Badung.

 

Nanti adik kamu juga ingin kuliah di luar Bali sur?

Hmm,perkiraan aja ni kalau menurut orang tua saya adik saya, terutama anak perempuan di Bali itu tidak diijinkan untuk pergi ke luar Bali.

 

Apa alasannya sur? Memang sudah tradisi ya?

Karena memang jiwanya harus berada di Bali.  Jika kemudian dia keluar, lalu siapa yang akan mengurusi mahdi?

 

Apa itu mahdi?

Ya, seperti mengurus sesaji di pura, dan hal-hal keagamaan seperti itu lhah.

 

Ya, surya ini kan pergi dari Bali ke Jogja sendirian ya, naik pesawat sendirian lalu mengurus pendaftaran dan lain sebagainya. Apakah ini memang kamu berusaha mandiri dari orang tua?

Ya, dalam hal ini juga karena situasi dan kondisi, kita gak mungkin juga ngajak orang tua kesini sedangkan orang tua masih sibuk di percetakan kan gitu? Lagi pula saya ke jogja ini juga bukan kali pertama, saya pernah ke jogja bersama teman-teman juga waktu itu ke malioboro dan candi prambanan. Saya ke Jogja inipun pakai uang saku saya sendiri.

 

Memakai uang tabungan kamu?

Ya, bisa dibilang setengahnya ini adalah uang tabungan saya. Karena dulu, sejak kelas 4 SD saya ini kasarannya sudah bisa menghasilkan uang.

 

Kelas 4 SD? (dengan agak terperangah saya menanyakan hal itu)

Ya, waktu kelas 4 SD saya mulai membeli ayam petelur, kemudian diternakkan sampai ada 500 ekor ayam. Telur- telur itu kemudian disetor, ada yang tiap hari ngambilin juga. Meski modalnya ini dari ayah saya, tapi dari semua aspek dari pakan, kebersihan dan penjualan saya yang urusin waktu itu.

 

Sukses itu bisnisnya?

Tidak juga sebenarnya, karena tidak sampai dua tahun ayam saya habis, mati semua. Karena suatu penyakit apa gitulah yang nularnya cepet banget. Dari situ kemudian saya berhenti ternak ayam.

 

Oh, setelah itu kamu sudah tidak usaha ternak lagi?

Ya, setelah itu saya berusaha lagi. Waktu itu SMP saya pinjam uang ke bibi saya 300 ribu untuk beli bibit. Saya kan rencananya waktu itu ingin ternak babi. Tahap awal saya beli 3 ekor, saya kasih bibi saya yang di kampung dipelihara disana. Lumayan keuntungannya karena kalau sudah besar satu babi itu satu juta. Dari modal awal 300 ribu itu dari babi yang masih kecil-kecil itu dipelihara sampai bisa dijual. Dari 3 babi itu kan dapatnya 3 juta, nah bibi membagi hasilnya 50 persen – 50 persen. Dari 3 babi itu kemudian terus dikembangkan jadi banyak babi, dari situlah kemudian saya mulai menabung sedikit demi sedikit.

 

Sampai sekarang masih ternak babi?

Oh enggak, ternak itu sampai tiga tahun saja. Karena saya sudah masuk ke SMA ya, jadi lebih fokus aja ke sekolah. Selain juga waktu itu kan saya ternak itu juga karena kondisi.

 

Karena kondisi?

Ya, karena kondisi.  Kelas 4 SD saya kan sudah mulai cari duit, itu memang karena tuntutan. Maunya ya waktu kecil itu dihabiskan untuk bermain, belajar dan apalah kegiatan anak kecil seumuran kelas 4 SD. Tapi waktu itu memang keadaan orang tua lagi dalam kesulitan ekonomi, bapak sering marah-marah pula. Ya waktu itu kan bapak sudah tidak lagi punya sumber penghasilan tetap lah istilahnya karena sudah berhenti jadi pengacara. Nah, disitulah saya harus berusaha untuk mandiri, itu karena memang sudah tuntutannya begitu.

Kalau sekarang, saya sudah tidak lagi ternak – ternak kayak gitu, karena sekarang bapak saya sudah mulai sukses dengan percetakannya.

 

Ya, benar juga. Aku dulu bisa apa ya waktu kelas 4 SD? Tidak pernah terpikirkan untuk mencari uang.

Ya, dari segi itu memang agaknya saya kehilangan masa kecil. Tapi tidak juga kok, malah sekarang saya bersyukur karena diberikan pembelajaran tentang makna-makna kehidupan. Dulu,  orang tua saya sering marah-marah waktu saya minta uang gitu, biasalah ya anak kecil minta uang untuk jajan, tapi kadang orang tua tidak sanggup. Nah dari sisi itu juga akhirnya saya diajarkan untuk beternak oleh bibi saya.

 

Surya, pengalaman apa yang kamu dapatkan ketika SMA ini?

Saya menjadi ketua OSIS SMA N 4 Denpasar dari tahun 2007-2009 kemarin. Dulu saat saya berkampanye keliling mencari dukungan, saya tidak pernah mengucapkan janji ini – itu kepada calon pemilih saya. Ya, ada juga yang pesimis mana ada SMA ini akan maju jika tidak ada program-program yang dijanjikan? Tapi saya meyakinkan bahwa untuk menjadi yang terbaik kita harus bisa menyatukan kebersamaan kita, bukan hanya sekedar janji-janji belaka.

 

Akhirnya terpilih jadi ketua osis?

Ya akhirnya saya terpilih sebagai ketua osis. Sebagai ketua osis saya juga kadang tidak mendapat dukungan atas apa yang jadi program saya. Program yang sekolah tidak setuju, semua tidak setuju, saya Cuma berempat megang kota Denpasar mengajukan gagasan bernama Kebangkitan Budaya. Ini idenya adalah bahwa kita harus pakai ekonomi kreatif, ekonomi kreatif ini adalah aspek IT,bisnis,ekonomi, dan aspek budaya terutama budaya lokal daerah. Misalnya gini, ada bazaar makanan lokal, misalnya gudeg, gudeg kita pamerkan juga masuk dalam website yang kemudia agar info tentang gudeg ini bisa menyebar luas hingga ke manca Negara. Gudeg adalah budaya lokal jogja, kita bisa kemas menjadi aspek ekonomi dan dari sisi IT nya juga.  Karena gini, saya berpikir bahwa Indonesia harus maju dengan budaya, pelestarian budaya. Bagaimana coba banyak kan budaya kita yang akhirnya diakui oleh Negara tetangga? Saya juga ingin merubah pikiran banyak orang bahwa untuk mengalahkan Amerika kita tentu kalah dari sisi teknologi, tapi kita akan menang dari sisi budaya. Nah, kenapa kita tidak junjung tinggi budaya tersebut?

 

Lalu kemudian ide gagasan kamu ini berhasil disetujui?

Oleh pihak sekolah tidak, karena alasannya biaya dan lain-lain. Tapi dari pihak kota Denpasarnya sendiri mendukung. Walikotanya kan waktu itu baru, jadi dapat dilaksanakan program ini tapi oleh sekolah – sekolah yang berbeda dari tahu ke tahun. Kalau tahun 2010 ini yang megang adalah SMA 1 Denpasar.

 

Jadi ketua Osis bangga tentunya dong ya?

Ya, karena program tersebut saya sempat masuk SCTV Bali, masuk juga di ANTV waktu itu Planet Remaja. Tapi kadang pula saya bersifat kritis, ka nada dulu guru saya Pembina Osis itu berusaha ingin korupsi. Jadi dulu Osis bersama sekolah ada kegiatan, nah dananya itu dilebih-lebihkan oleh guru tersebut, katanya nanti duit itu kita buat makan-makan saja kasarannya begitu. Langsung saya menghadap kepala sekolah, saya berharap kepada kepala sekolah agar guru itu dikeluarkan dari Pembina osis, atau saya yang akan mundur jadi ketua osis. Akhirnya tidak sampai dua minggu guru tersebut mundur dari Pembina osis.

 

 

Surya, aku mau Tanya lagi ni. Kan kamu Hindu ya, Hindu Ksatria, nah suatu saat umpama kamu punya pacar, apakah kamu juga milih-milih pacar dengan kasta yang sama, juga ketika milih calon istri nantinya, bagaimana sur?

Ya, pertanyaan yang bagus tuh. Gini ya, saya ini kan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga besar. Jadi dalam keluarga nenek saya itu saya cucu laki-laki satu-satunya. Lalu saya disuruh dan memang sudah tradisinya begitu bahwa saya harus mencari calon istri yang sekasta, karena kalau misalnya kita mencari yang beda kasta sampai tiga kali.

 

Tiga kali, maksudnya?

Misalnya saat ini saya nyari anak sudra lalu saya punya anak laki-laki, kemudian anak saya mencari wanita sudra, lalu cucu saya nyari sudra lagi maka kalau sampai tiga keturunan berturut-turut begini wangsa I Dewa ini akan hilang. Nah, kita kan menjaga warisan nenek moyang, menjaga tradisi itu jadi yam au tidak mau harus dihadapkan pilihan harus milih yang sekasta. Sebenarnya gini, kalau cowok Ksatria nyari cewek Sudra itu gak papa.

 

Nanti anaknya dapat kasta apa?

Kasta saya, Ksatria. Ya tapi itu jgn sampai tiga kali berturut-turut seperti tadi yang sudah saya jelaskan.

 

Kalau cewek Ksatria dapat cowok Sudra bagaimana?

Nah kalau kejadian begini nanti cewek itu tidak akan diakui oleh keluarganya, jadi istilah kasarnya dibuang. Tapi tetep dia boleh ketemu orang tuanya, tapi gak boleh manggil “ibu”. Kalau saya panggil orang tua kan ibu, nah kalau cewek yang istilahnya sudah nyerot atau turun kastanya dia harus manggil ibunya dengan Dewa Biyang, itu artinya ibu dengan kasta dewa. Jadi gak boleh manggil ibu aja, karena ada kepercayaan bakal kena tulah.

 

Nah, kalau kamu harus mencari calon istri dari Ksatria, kamu merasa dipersempit gak? Maksudnya dipersempit dalam hal pilihan.

Merasa dipersempit sih enggak ya, karena memang mau saya begitu. Tapi juga kan jodoh siapa yang tahu kan ya? Jadi seumpama saya takdirnya dapat yang bukan ksatria ya gak papa, saya fine-fine aja. Tapi keturunan saya nantinya jangan sampai turun kastanya kan gitu.

 

Oke surya, sampai disini saja obrolan kita, hujan juga sudah mulai reda, aku harus kembali ke kampus.

Oya, kampusnya dekat sini ya?

 

Lha situ kampusku, tinggal jalan kaki saja.

Oke makasih banget sudah ditemenin ini, mohon doa restunya juga.

 

Yap surya, aku doakan semoga ketrima di UGM.

Ya sampai jumpa, kalau ke Bali kontak-kontak aja.

————

 

Akhirnya saya pun bergegas menuju kampus karena saat itu ada kuliah. Hujan sudah reda dan Surya masih menunggu kakak sepupunya yang kuliah di Atmajaya Jogja untuk menjemputnya menginap di kost kakaknya tersebut.

Sampai kamis malam, tiba-tiba surya sms saya, bahwa dia berangkat pulang ke Bali sore tadi sekarang sudah sampai di Bali. Dari situ saya mendapatkan seorang teman baru, teman dari Bali yang kemudian memberikan pengetahuan tentang kasta.

 

Sebenarnya banyak dari percakapan yang tidak saya tuliskan disini karena memang percakapan kami ngalor ngidul panjang-lebar, kebetulan saya merekam percakapan ini lewat hp, tentu saja dengan izin dia.

 

 

Iklan

Perihal pijarpatricia
ADITYO KUSNADI

2 Responses to Tentang Kasta, Taksu dan Mahdi dalam Budaya Bali

  1. ternyata masih banyak simpang siur tentang kasta di bali, sehingga ada peredaan pemahaman terhadap status sosial tersebut..
    ini saya kasi link tentang kasta dibali dan menjelaskan apa kasta itu…
    http://cakepane.blogspot.com/2012/07/sistim-kasta-di-bali.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: