‘Chinese Democracy’ Sebagai Bentuk Simpati GNR Untuk Falun Gong

Partai Komunis China dan Falun Gong

China adalah salah satu Negara komunis terbesar di dunia, dengan sistem komunis seperti itu hanya ada satu partai yang berkuasa yaitu Partai Komunis China. Negara yang dikuasai oleh Partai Komunis China (PKC) ini perlahan-lahan menjadi Negara diktator dengan penguasa otoriter dan memiliki catatan pelanggaran HAM yang buruk sejak kepemimpinan Mao Zedong dengan Revolusi Kebudayaannya.

Partai Komunis China menjadi perhatian dunia di penghujung abad 20 ketika melakukan tindakan represif tarhadap kelompok spiritual Falun Gong, sama seperti kejadian masa lalu terhadap Tiananmen.

Falun Gong adalah sebuah kelompok spiritual yang dikenalkan oleh Master Li Hongzhi pada tahun 1992. Kelompok ini tergolong kelompok spiritual yang masih muda jika dibandingkan dengan kelompok-kelompok spiritual lain di China. Falun Gong merupakan kelompok semi-religius, campuran antara Budhisme, Taoisme dan kepercayaan tradisional, ajaran yang berintikan pada Zhen-Shun-Ren (kebenaran, kebaikan, kesabaran), kelompok ini secara cepat dapat menarik jutaan pengikut yang tersebar tidak hanya di Cina namun juga di luar negeri.

Pada awal penyebarannya, Falun Gong bergabung dengan Qigong Research Assosiation of China  agar lebih diterima oleh pemerintah, dengan pertimbangan bahwa keberadaan qigong di China sudah diakui sejak lama dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat. Selain itu, tindakan tersebut akan menyebabkan Falun Gong tidak diasosiasikan sebagai kelompok religious yang nantinya akan mendatangkan kecurigaan atau prasangka dari pemerintah.[1] Strategi ini kemudian berhasil dengan diterbitkannya surat dari Kementrian Keamanan Nasional kepada Li Hongzhi, dan dengan surat tersebut pemerintah China memuji Falun Gong sebagai kegiatan untuk peningkatan kesehatan.

Pemerintah China, khususnya Partai Komunis China tentu tak akan membiarkan sebuah organisasi massa berkembang secara pesat, PKC khawatir bahwa jika organisasi massa dibiarkan berkembang pesat maka akan mengancam eksistensi kepemerintahan yang dipegang Partai Komunis. Hal itu terbukti ketika Falun Gong telah mendapatkan dukungan massa yang sangat banyak di penjuru China, dan puncaknya ketika para pengikut Falun Gong mengadakan unjuk rasa damai di Zhongnanhai, markas besar PKC di Beijing pada bulan April 1999, aksi tersebut diikuti oleh lebih dari 10.000 orang pengikut Falun Gong. Sejak demonstrasi ini Falun Gong mulai berani memprotes PKC untuk menuntut kebebasan menjalankan ajaran Li Hongzhi. Menyadari perkembangan yang begitu pesat dari falun Gong, maka pemerintah menanggapinya dengan tindakan represif dimana tindakan kekerasan, penangkapan, sanksi penjara tanpa peradilan dan pengiriman pengikut Falun Gong ke kamp-kamp buruh untuk mendapatkan re-edukasi ideologis dilakukan aparat.

Pemerintah China juga menuding bahwa Falun Gong adalah sebuah ajaran sesat, Pemerintah China mempublikasikan secara luas peristiwa bakar diri massal yang terjadi di lapangan Tiananmen yang dilakukan oleh pengikut Falun Gong agar dapat mencapai inti ajaran Li Hongzhi. Selain itu, pemerintah juga menuduh bahwa Falun Gong merupakan organisasi yang memiliki hubungan dengan kekuatan asing yang ingin menghancurkan China.

Kecaman terhadap China, Khususnya terhadap Partai Komunis China datang dari berbagai Negara. Salah satu bentuk kecaman yang dilakukan adalah dengan media musik. Sebagai salah satu dari komoditas utama dalam media, musik merupakan salah satu media yang penyebarannya bisa sangat luas untuk menyampaikan berbagai kritikan sosial. Dalam hal itu maka musik memiliki potensi yang baik untuk menanamkan penetrasi ideology dan kesadaran kritis kepada khalayak.

‘Chinese Democracy’  Sebagai Bentuk Simpati GN’R Untuk Falun Gong

Musik, sebagai salah satu karya seni dapat dipahami sebagai sebuah simbol dalam komunikasi. Maka musikpun harus mampu merefleksikan realitas sosial di sekitarnya. Seperti simbol lainnya, musik mempunyai kemampuan untuk menghasilkan kembali atau menentang struktur sosial yang dominan. (Robinson, 1991:33).

Guns N’ Roses melakukan caranya sendiri untuk mengecam tindakan-tindakan PKC terhadap Falun Gong, melalui lagunya mereka mencoba menyadarkan dan membuka mata dunia bahwa ada penindasan kejam yang dilakukan oleh Pemerintah China. Chinese Democracy, adalah sebuah lagu dari Guns N’ Roses (GN’R) yang bercerita tentang kekejaman PKC terhadap Falun Gong. Sebelum lagu ini dirilis resmi oleh pihak rekaman, perdebatan panjang tentang lamanya pembuatan album ini (Album “Chinese Democracy”) membuat album dan lagu ini menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu, dan perdebatan panjang tersebut malah membuat lagu itu semakin banyak dikenal.

Album Chinese Democracy dirilis pada 23 November 2008, walaupun album ini tidak sesukses album Appetite For Destruction atau Use Your Illusion namun album ini menghadirkan lagu-lagu yang jauh lebih sopan liriknya. Ketika salah satu lagu mereka yang berjudul “Chinese Democracy” telah beredar terlebih dahulu (22 Oktober 2008) dibanding albumnya, pihak China bereaksi cepat dengan melarang masuknya berbagai konten mengenai GN’R. Semua warga China sangat kesulitan untuk mengakses informasi tentang GN’R baik melalui media massa maupun internet.  China sebagai salah satu Negara terketat dalam pembatasan akses internet menerapkan blokir terhadap situs-situs yang menyerang atau mengkritik pemerintahan china, saking ketatnya pembatasan akses internet itu maka China dijuluki “Great Firewall of China”. Situs-situs yang memuat hal-hal sensitif yang berkaitan dengan Cina seperti Tiannanmen Square, Falun Gong, serta organisasi-organisasi illegal, benar-benar terlarang untuk diakses.

Setelah album itu benar-benar dirilis, PKC segera memblokir akses masuk album dan lagu itu dengan alas an lagu yang berjudul Chinese Democracy mengandung unsur “penghinaan” terhadap PKC, sedikit penggalan lirik tersebut adalah “//Blame it on the Falun Gong, they’ve seen the end and you can’t hold on now//” (Walaupun kalian menindas Falun Gong semaunya. Mereka akan menyambut hari berakhirnya penindasan, dan kalian sudah tidak bisa mempertahankan lagi penindasan itu). Lagu itu serta merta membangkitkan kemarahan Kementerian Kebudayaan Republik Rakyat China, sebuah badan administratif di bawah Dewan Negara yang bertugas menyeleksi segala hasil karya artis sebelum diedarkan untuk rakyat RRC. Lagu ini juga merupakan bentuk komunikasi non politik yang bisa mencuri perhatian dunia terutama PBB untuk lebih serius menindak PKC yang telah banyak melakukan pelanggaran HAM terhadap komunitas Falun Gong.


[1] Falun Gong and Falun Dafa, What It Is, What It Does and Why the Chinese Government Is So Terrified of It, dalam http://www.religioustolerance.org/falungong.htm

Iklan

Perihal pijarpatricia
ADITYO KUSNADI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: