Paket Kilat Surabaya-Yogyakarta

Saya akan bercerita tentang kejadian yang saya alami hari Jumat, 29 April 2011. Ketika itu selepas sholat Jumat di Masjid Gede depan Candi Prambanan. Selapas selesai jumatan saya tak langsung pulang, sampai pukul satu siang dan tersisa beberapa jamaah. Ada satu jamaah yang berkenalan dengan saya, ngobrol ngalor ngidul, begini ceritanya.

Dia (untuk selanjutnya saya akan sebut dengan “si dia”) mengaku berumur 43 tahun, berasal dari Surabaya namun istrinya berasal dari Sleman, singgah di Masjid ini untuk Sholat Jumat. Dia baru saja dari RS Panti Rapih Yogyakarta menengok kakak laki-lakinya yang menurutnya berumur 49 tahun. Kenapa?? Aku tanyakan dan ternyata kakaknya itu habis kecelakaan sepeda motor vs truk dan sehingga kaki kanannya harus diamputasi. Ceritanya kakaknya itu belum pernah menikah, artinya dia adalah jejaka tua. Kakaknya itu punya kenalan seorang janda beranak dua yang jandanya itu rumahnya di daerah Bogem, Kalasan. Nah singkat cerita kakaknya itu pergi ke Bogem (ngakunya dari Surabaya langsung ke Bogem) untuk keperluan melamar, nah ternyata ditolak lamaran untuk pernikahan itu.  (Saya belum sampai bertanya bagaimana kakaknya ini berkenalan dg janda itu?? Lewat medium apa?? Belum sempat aku tanyakan).

Pada akhirnya kakaknya itu patah hati, dia tidak pulang ke Surabaya namun menumpang di rumah orang tua istrinya si dia itu.  Pada suatu hari kakaknya pergi malam, mabuk dan dalam keadaan mabuk kakaknya itu kecelakaan dan akhirnya kakinya harus diamputasi. Si dia ke Jogja untuk menjenguk dan pada jumat itu dia harus kembali ke Surabaya untuk mengambil mobil agar si kakak bisa dibawa pulang ke Surabaya. Bla-bla-bla……..

Kemudian saya bertanya pada si dia dimana kerjanya, dia mengaku bahwa dia bekerja sebagai pedagang — dia biasa jual laptop, atau kamera black market yang dia ambil dari pelabuhan tanjung perak Surabaya. Saya tertarik untuk mengorek itu lebih dalam, saya tanya bagaimana dia memasarkan barang-barangnya, dia malah bercerita bahwa beberapa hari yang lalu dia berangkat ke Jogja iseng-iseng membawa laptop Toshiba baru, ia mengaku membeli dari pasar gelap seharga satu juta.   Saat di RS jeda waktu menengok kakaknya dia bertemu dengan seorang anak muda yang ternyata adalah mahasiswa UGM, anak muda itu menengok ayahnya yang terkena tumor di lehernya (Si dia menjelaskan dengan berkata “Amit-amit jabang bayi, ayahnya kena tumor di leher”). Si dia bercerita kepada saya bahwa anak muda itu ingin sekali membeli laptop namun kok musibah datang terus, ayahnya harus masuk RS dan uang yang seharusnya untuk beli laptop akan digunakan untuk pengobatan ayahnya.

Bla-bla-bla singkat cerita si dia berhasil menjual laptopnya kepada anak muda tadi seharga 3 juta dan menurut dia pembayaran itu terjadi di depan orang tuanya di RS. Nah, inilah keanehan yang muncul….ini janggal kok ayahnya sedang sakit malah transaksi laptop di RS dan didepan ayahnya. Bla-bla….dia malah tidak menjawab bagaimana dia memasarkan barang-barang itu, lewat mulut ke mulut atau lewat internet kek atau bagaimana??……..dia gak jawab dan malah melanjutkan cerita….

Saya Tanya ke dia kok barang-barang gelap itu bisa lolos??? Dia menjawab bahwa dia punya kenalan bea cukai dari Yogyakarta?? (Dari Yogyakarta???). bla-bla-bla saya bertanya apakah ada barang gelap kamera DSLR, dia menjawab ada…”yang panjang itu kan?? Yang hitam??” jawab dia. Dia tidak tahu merk-merk kamera itu (lhoh jare duwe dagangane??). dan kemudian dia menawarkan padaku “Mau??” ,  saya berpura-pura mau…..”Tapi saya belum punya uang pak!” jawabku. Dia malah bilang santai saja….bla-bla-bla dia belok cerita lagi katanya jika hari ini ada yang mau mengantarnya ke Surabaya maka orang itu akan dihadiahi laptop dan kalau perlu diberi bonus hp (tentu barang gelap, jarene). “Lhoh kok gitu pak?” Tanya saya. Dia menjawab “Ya gitu dek, istri saya bilang ya lebih baik gitu daripada saya ini NYOLONG!” ……….”Lhoh, nyolong apa pak??” Tanya saya…. Dia mengaku kekurangan uang untuk naik bis menuju Surabaya. Saya mulai aneh lagi kenapa ada kata-kata nyolong?? Kalau orang baik-baik dia tak akan pernah terlintas dalam benaknya untuk nyolong, nah ini??? aneh…kalau dia tidak punya uang kenapa dia mau pulang? Bukankah ia bisa pergi ke rumah mertuanya di Sleman?? Lalu kenapa dia singgah di Prambanan?? Apa bis Surabaya-nya berhenti sejenak di depan masjid?? Ternyata tidak, dia mengaku langsung dari Panti Rapih menuju kesini….busyet aneh men.

Dia menjelaskan akan membawa barang kamera itu besok jam 12 temui dia di RS Panti Rapih maka saya akan dapat kamera itu. (artinya saya harus bertemu dia di Panti Rapih pada hari Sabtu ini <30 april> jam 12 siang untuk mengambil kamera yang saya maksud).  “Lhoh pak saya gak punya uang lho pak!”  jawab saya. Saya bertanya tentang barang gelap kamera tadi bukan berarti saya mau beli kan???? Dia menjawab tenang, pokoknya syaratnya saya harus meminjamkan uang seratus ribu dulu kepadanya…kurangnya harga kamera itu bisa diurus nanti (bagaimana urusannya?). dia suruh saya mencatat nomor hpnya…saya catat, saya disuruh miscall, “Wah pak saya gak punya pulsa.” Alasan saya. Ya udah sms saja kata dia, sekarang hpnya sedang dibawa istrinya…”Nggih pak niki kulo sms.” Aku tipu dia toh aku gak sms pun dia gak tahu kan ngakunya hp dibawa istrinya.

Saya tanya bagaimana cara dia pulang ke SBY?? Dia jelaskan dia akan naik bis Jogja-Solo menuju terminal giwangan Yogyakarta lalu akan naik bus Mira-Eka atau Sumber Kencono menuju SBY.   Saya hanya membatin lhoh kok tidak menuju solo sekalian, kan jaraknya bisa lebih dekat kalau naik dari solo?? Jam sudah menunjukkan jam satu siang….ini artinya dia akan sampai di terminal giwangan paling tidak jam setengah dua siang berangkat dari jogja menuju SBY itu menurut pengalaman naik bis memakan waktu 7 jam. Artinya jam 2 siang berangkat maka sampai Surabaya jam 9 malam. Aneh kan?? Berarti untuk perjalanan Pulang-pergi jogja-sby butuh waktu 14 jam.

Nah padahal dia menyuruh saya jam 12 siang hari sabtu ketemuan di Panti Rapih (ya jika saya tadi berhasil meminjamkan uang seratus ribu). Jam 12 siang sudah sampai Panti Rapih itu artinya saat di Surabaya dia tiba jam 9 malam dari jogja dan harus naik bis menuju jogja lagi pada pukul 5 pagi….!!! Pukul 5 pagi berangkat dari SBY maka sampai terminal jogja jam 12 siang, belum lagi perjalanan terminal ke Panti Rapih.

Banyak kejanggalan dari cerita dia ini, salah satunya adalah penjualan laptop di depan ayah anak muda yang dirawat itu. Dia kaget saat dia tanya saya kerja dimana, saya jawab masih kuliah di UGM….dia kaget karena sebelumnya dia bercerita banyak tentang UGM…..lalu tentang cerita kakaknya..kenapa kakaknya malah kenal orang Bogem?? Lalu kenapa dia berada di Jogja sampai dia kecelakaan?? Bukannya pulang ke SBY. Maka saya yakin bahwa dia ini sebenarnya bukan orang Surabaya namun orang Yogyakarta…..dia juga tidak tahu berapa jam lama perjalananan Yogya-Surabaya via bis.

Saya langsung buru-buru cabut…..saya tak mau lagi … saya tak pinjamkan uang 100 ribu itu pada orang yang baru dikenal.