Menjaga Generasi Bangsa Dari Pengaruh Negatif “Peterporn”

Remaja dan Anak-Anak adalah  Sasaran “Korban” Internet

Saat ini publik dihebohkan dengan beredarnya video mesum pasangan Ariel Peterpan dan Luna  Maya di dunia maya, belum sempat isu ini reda beberapa hari kemudian beredarlah video mesum Ariel Peterpan dengan Cut Tari. Dengan mudahnya penyebaran video itu membuat khawatir para orang tua di Indonesia. Bagaimana tidak, dengan beredarnya kedua video itu sekarang hampir semua remaja selalu “penasaran” ingin melihat adegan mesum itu.

Dengan berkembangnya dunia internet telah diakui bahwa banyak membawa pengaruh-pengaruh positif dalam berbagai hal. Namun, disatu sisi ada yang terlupa bahwa internet juga bisa membawa dampak buruk apabila tidak digunakan secara bijak, khususnya kepada golongan usia remaja dan anak-anak.

Dalam era teknologi komunikasi sekarang ini kekhawatiran orang tua tertuju pada pengaruh-pengaruh negatif dalam dunia maya. Sifat anak-anak dan remaja yang masih serba ingin tahu membuat mereka adalah golongan paling rentan terpapar pengaruh-pengaruh negatif  internet. Anak-anak dan remaja juga merupakan golongan yang paling rentan terhadap kejahatan cyber, seperti penculikan disertai pemerkosaan dan pencabulan.

Remaja dan Anak-anak saat ini berada dalam golongan masyarakat digital native, mereka lahir dan tumbuh di era digital yang menjadikan mereka memiliki cara berpikir, berbicara, dan bertindak berbeda dengan generasi sebelumnya. Sedangkan para orang tua mereka masih cenderung menjadi digital immigrant, penduduk pendatang yang masih berusaha beradaptasi dengan dunia maya. Sekalipun, dunia tersebut awalnya ditemukan dan dikembangkan oleh penemu dari kalangan “imigran” itu sendiri. (Kahardityo:2010).

Remaja dan anak-anak lebih cepat untuk beradaptasi dengan dunia maya, dan dengan cepat pula telah merubah gaya hidup mereka. Situs-situs jejaring sosial seperti facebook atau twitter akan membuat mereka lebih betah berada dalam dunia maya. Peranan kontrol orang tua pun sangat diperlukan dalam hal ini, namun disatu sisi para orang tua masih beradaptasi dengan perkembangan internet yang sangat cepat ini.

Menurut hasil riset Yahoo di Indonesia yang bekerja sama dengan Taylor Nelson Sofres pada tahun 2009, pengguna terbesar internet adalah usia 15-19 tahun, sebesar 64 persen. Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, usia 0-18 tahun tergolong usia anak-anak. Riset itu dilakukan melalui survey terhadap 2.000 responden. Sebanyak 53 persen dari kalangan remaja itu mengakses internet melalui warung internet (warnet), semntara sebanyak 19 persen mengakses via telepon seluler. (Kompas,8/2/2010).

Mengacu pada kasus video mesum Ariel di atas, dengan mudahnya video itu tersebar membuat remaja dan anak-anak yang awalnya cenderung masih polos kemudian akan sangat menginginkan untuk dapat melihat video tersebut. Kasus ini tidak hanya mencakup para pelaku video mesum dan pihak yang menyebarkan, tapi  dengan status bintang / artis para pelaku tersebut membuat remaja dan anak-anak akan terkena dampak sangat buruk. Bambang Hendarso Danuri selaku Kapolri memberikan pernyataan bahwa pihak Bareskrim akan segera mencegah peredaran video tersebut dan akan segera meminta keterangan dari pelaku video mesum tersebut. Karena menurut Kapolri kasus ini akan sangat merugikan generasi-generasi muda Indonesia yang sangat penasaran ingin melihat adegan tersebut. (Metro TV,9/6/2010).

Situs Jejaring Sosial (Facebook dan Twitter) Adalah Favorit Remaja

Perkembangan dunia internet yang memakan korban remaja dan anak-anak ini sebelumnya pernah terjadi ketika mencuatnya berita soal praktik pencabulan / prostitusi melalui media jejaring sosial Facebook yang terungkap di Surabaya, Jawa Timur beberapa bulan yang lalu, merupakan potret fenomena gunung es soal kejahatan cyber berwujud pornografi yang menimpa anak-anak dan remaja. (Kompas,8/2/2010).

Wajar saja ketika ancaman-ancaman kejahatan cyber dilancarkan melalui situs jejaring sosial, karena pada saat ini anak-anak dan remaja adalah pengguna terbesar situs-situs tersebut. Riset Nielsen mengungkapkan pengguna Facebook pada tahun 2009 di Indonesia meningkat 700 persen dibanding pada tahun 2008. Sementara pada periode yang sama, pengguna Twitter tahun 2009 meningkat 3.700 persen. Sebagian besar penggunanya  berusia 15-39 tahun. Remaja pengguna internet juga cenderung menghabiskan waktu lebih lama di internet dibanding tahun-tahun sebelumnya. (Kompas:2010). Hampir semua provider dan operator telekomunikasi mengakui bahwa 40-60 persen trafik internet didominasi oleh Facebook. Data Checkfacebook.com menunjukkan, Indonesia peringkat ke-7 di dunia dengan 12 juta pengguna. (Onno W. Purbo:2010).

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini bisa diistilahkan seperti perkembangan telepon seluler 3G, dalam internet daya tarik utamanya adalah 3G yaitu, games (permainan), gambling (perjudian), dan girls (wanita). Pada kenyataannya, G yang terakhir menjadi marak dan selalu menarik minat siapa saja karena cakupannya menjadi lebih luas memasuki wilayah seks dan pornografi. Dan, persoalan G yang ini memang masuk ke dalam teknologi komunikasi informasi yang karena memiliki cengkeraman dan turunan yang panjang di dunia nyata. Ini menjelaskan hebohnya pemberitaan dan pergunjingan mengenai beredarnya video porno mirip artis Luna Maya dan Ariel, menembus masuk ke dalam situs-situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter. (Kompas, 7/6/2010).

Namun bagi para remaja dan anak-anak, persoalan G yang menyangkut ‘Girls’ ini tentu masih belum bisa untuk mereka konsumsi sehari-hari. Kenyataan bahwa terpaan berita-berita dan pembahasan di situs jejaring sosial tentang masalah video mesum mirip artis ini telah membuat sebagian besar remaja akan sangat penasaran untuk mendapatkan video mesum tersebut.

Dengan beredarnya video mesum Ariel “Peterporn”[1] saat ini, kejahatan cyber tidak hanya selalu berupa kontak fisik antara pelaku. Perlahan namun pasti pengaruh beredarnya berita-berita tentang video ini akan membuat penasaran anak-anak dan remaja, dan rasa penasaran ini tampaknya akan belum terpuaskan tanpa melihat adegan dalam video tersebut. Bayangkan saja jika sekarang anak-anak usia SMP – SMA  sudah terpapar hebohnya berita tersebut, dan dengan cepatnya mereka akan menonton adegan yang selayaknya belum pantas untuk meraka tonton.  Perilaku remaja dan anak-anak cenderung masih labil, sehingga sangat dikhawatirkan dampaknya akan merusak tatanan moral generasi muda Indonesia.

Dengan banyaknya terpaan berita-berita tentang video mesum Ariel ini kemudian membuat KPI bereaksi keras terhadap media – media yang secara kontinyu menyiarkan berita-berita tersebut, bahkan beberapa media tidak hanya menyajikan lewat berita namun dikemas dalam bentuk infotainment. Di samping banyak masyarakat yang antusias ingin tahu, juga banyak yang menyayangkan pemberitaan tersebut. Pemantauan KPI Pusat dari awal kasus video cabul menemukan banyak pelanggaran sehingga KPI telah memperingatkan semua lembaga penyiaran televisi. (Kompas.com,9/6/2010).

Peran Orang Tua dan Pemerintah

Orang tua kerap lengah ketika anak-anak mereka asyik berinternet, baik di rumah, melalui ponsel, maupun di warnet. Secara fisik anak tampaknya anteng dan baik-baik saja di depan internet, namun mereka boleh jadi telah terpapar hal-hal yang membahayakan. Peranan  orang tua memang tidak bisa 24 jam, namun dengan komunikasi efektif antar anggota keluarga, niscaya orang tua akan bisa merangkul anak-anaknya untuk lebih positif menggunakan internet.

Sampai saat ini, ancaman kejahatan seksual terhadap anak-anak melalui internet masih dilindungi melalui UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) di Pasal 27 Ayat 1. Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, sempat berwacana ingin mengeluarkan Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tentang Konten Multimedia (RPM Konten). Namun, ide bapak menteri yang katanya demi mewujudkan internet sehat ini justru dianggap publik sebagai ancaman untuk kebebasan pers di Indonesia.

Meluasnya protes terhadap RPM Konten ini kemudian membuat Presiden SBY sempat “mengingatkan” Tifatul. Saat ini RPM Konten masih dibekukan gara-gara protes yang merebak di masyarakat beberapa bulan yang lalu. Namun demikian, semua pihak berharap agar peraturan perundang-undangan bisa lebih memberikan jaminan internet sehat bagi para remaja dan anak-anak, karena mereka adalah generasi bangsa yang harus dijaga dan diselamatkan.

=====—=====


[1] Ariel Peterporn adalah plesetan dari Ariel Peterpan, istilah ini sangat populer di Twitter. Menurut berita yang berkembang, Ariel masih mempunyai 30 video lain mirip artis yang bersetubuh dengannya. Plesetan Ariel “Peterporn” pun sangat pas untuk menggambarkannya, dan sekarang Ariel diancam penjara 6 tahun..

DAFTAR PUSTAKA

Surat Kabar :

Kompas, Senin 8 Februari 2010. Predator Incar Anak Kita, Semua Pihak Harus Menyadari Ancaman Itu dan Mencari Solusinya.

Kompas, Senin 7 Juni 2010. Privat Digital

Purbo, W. Onno. Dunia Internet Kita. Dalam rubrik Opini Kompas, Senin 8 Februari 2010.

Televisi :

Metro Hari Ini Sore, 9 Juni 2010. Kapolri Sudah Perintahkan Kabareskrim Ito Sumardi Untuk Segera Memanggil Pemeran Video Mesum Mirip Artis.

Internet :

Kompas.com, Rabu, 9 Juni 2010. Orangtua Khawatirkan Dampak Video Porno

Kompas.com, Rabu, 9 Juni 2010. KPI: Semua Stasiun TV Kena Peringatan

Kompas.com, Rabu, 9 Juni 2010. Wapres Prihatin Video Porno Mirip Aktris

DetikInet.com, Kamis, 20 Mei 2010. Bagi Anak, Facebook Lebih Berpengaruh Daripada Sekolah.

DetikInet.com, Rabu, 24 Februari 2010. Akses Porno Cukup Rp 3.000, Menkominfo Khawatir.

DetikInet.com, Rabu, 24 Februari 2010. Menkominfo Bekukan RPM Konten

Iklan

Perihal pijarpatricia
ADITYO KUSNADI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: