Bioskop Permata

TUGAS KULIAH MANAJEMEN MEDIA MASSA

ADITYO KUSNADI

21813

ILMU KOMUNIKASI

Bioskop Permata

Bioskop Permata adalah salah satu bioskop tua di Yogyakarta yang sampai saat ini masih bertahan. Bioskop yang berdiri pada tahun 1960-an ini pada zaman dahulu merupakan bioskop besar pada zaman itu. Di samping puluhan bioskop yang ada pada waktu itu, membuat persaingan antar bioskop tidak dapat terelakkan. Pada tahun 1980-an ketika perfilman indonesia berada pada puncaknya, muncullah bioskop-bioskop baru yang meramaikan persaingan. Sebut saja bioskop tersebut adalah Bioskop Mataram dan bioskop-bioskop lain yang saat ini mulai dilupakan namanya.

Namun setelah akhir tahun 1990-an, industri bisnis bioskop seperti ini tampaknya sudah terlalu kalah bersaing dengan keberadaan Theatre 21, sebuah bioskop modern yang menyajikan gambar, ruangan dan tatanan sound system yang sempurna. Ditambah pula dengan harga tiket yang tidak terlalu jauh berbeda dengan bioskop “kelas dua” ini, maka bioskop-bioskop kelas dua semakin terpuruk. Puluhan diantara mereka kini hanya tinggal nama. Yang terakhir kita ingat adalah Bioskop Mataram, bioskop ini sudah “bubar” dan kini hanya tinggal kenangan sebuah nama, bangunannya pun kabarnya akan segera dirobohkan berganti bangunan baru. Beruntunglah saya karena sebelum bioskop itu bubar, saya masih sempat menikmati bioskop yang tergolong kelas dua itu.

Namun ditengah hancurnya bioskop-bioskop tua tersebut, ternyata masih ada bioskop tua yang masih bertahan, yaitu Permata dan Indra. Terakhir saya mengunjungi Permata untuk sekedar observasi.

Kedatangan saya pada sore itu membuat suasana lebih ramai, dibangku antrean sudah ada calon pembeli tiket. Namun yang saya lihat waktu itu adalah penonton bioskop di Permata rata-rata adalah laki-laki yang sudah berumuran. Dalam artian bahwa kebanyakan penonton bioskop itu adalah kaum “bapak-bapak”. Dengan harga tiket lima ribu rupiah, saya bersama sahabat saya memasuki gedung bioskop. Suasana tampak gelap, bau dan kotor. Lurus setelah saya masuk terdapat “WC Pria”, aneh memang, kenapa tidak ada WC wanita di sini??? Film yang diputar pun adalah sebuah film mandarin tahun 1980-an, sedikit vulgar.

Saya mendapat banyak informasi dari petugas yang memutar rol film. Kebetulan saat itu saya ke belakang dan melihat langsung bagaimana proses pemutaran rol film dan penyorotannya. Sebuah pengalaman yang sangat berharga. Pemutar rol ada dua buah, di kanan dan di kiri. Kebetulan film tersebut terdiri dari 5 rol. Ketika satu rol di kiri habis, maka dengan manual bapak itu pun menghidupkan pemutar rol sebelah kanan.

Berikut ini adalah hasil wawancara saya dengan bapak pemutar rol film :

Bagaimana dengan penontonnya??

Menurut bapak tersebut (saya lupa namanya, yang pasti bapak tersebut telah bekerja sebagai pemutar rol film sejak tahun 1974), penonton di sini kebanyakan kaum bapak-bapak. Jarang sekali ada anak-anak sekolah ataupun mahasiswa, kalaupun ada mereka hanya observasi saja. Dulu, penontonnya banyak juga remaja-remaja anak sekolah, ptapi mungkin karena sajian film di Permata yang kalah bersaing dengan 21, maka sekarang sangat sepi pengunjung remaja.

Film apa yang disajikan di bioskop ini??

Bioskop ini kebanyakan menyajikan film era 1980-an atau sebelumnya, ada juga film 1990-an. Bioskop ini tidak mampu memutar film-film terbaru karena harga rol film baru yang mahal. Film-film di sini juga sedikit vulgar.

Apakah film tetap akan diputar sesuai jadwal pemutaran??

Menurut informasi bapak tersebut, film akan diputar ketika pembeli tiket sudah mencapai lebih dari 10 orang. Jika kurang dari itu, maka uang tiket akan dikembalikan dan film tidak jadi diputar.

Mengapa bioskop ini masih tetap bertahan??

Ketika ditanya pertanyaan itu, sang bapak Cuma menjawab, “ya, Alhamdullilah sampai saat ini masih bisa bertahan dik!”  (halah…???!!!)….tapi yang membedakan dari bioskop lain adalah, di Permata gedung ini sudah punya hak pakai dan bukan merupakan gedung sewaan atau yang dikontrak. Bapak menjelaskan bahwa bubarnya Mataram dikarenakan karena gedung yang ditempati sudah habis kontrak dan tidak diperpanjang lagi. Berbeda dengan Permata yang hanya membayar biaya PPN dan pajak PBB, tidak membayar sewa kontak gedung karena Permata memiliki hak pakai gedung.

Jika sudah sepi penonton, bagaimana nasib bioskop ini??

Bapak itu Cuma menjawab singkat, “Bubar dik….!!!”. saya Cuma bisa tertawa mendengar jawabannya. Tapi yang pasti Permata ini akan terus mencoba tetap bertahan dengan sasaran penonton kalangan menengah ke bawah dan kaum bapak-bapak. Mencoba untuk tetap melakukan pelayanan yang terbaik bagi penonton dan tentunya berusaha memutar film-film yang “agak baru”.

Ketika saya akan beranjak dari ruang itu, saya lihat pengantar rol film datang dan menurunkan rol film yang akan diputar setelah film ini selesai. Saya tanya kepada bapak itu, darimana pak?? Beliau menjawab dari Indra. Oh, saya baru tahu kalau Indra dan Permata kerjasama dalam pembelian rol film

Demikianlah pengalaman saya dan hasil wawancara dengan bapak pemutar rol film Permata. Saya salut kepada bapak tua ini, beliau bekerja siang sampai malam mulai tahun 1974. saya berpikir, bagaimanakah nasibnya ketika suatu saat bioskop itu bubar?? Kemana lagi beliau akan mencari nafkah??

=======

(ditulis tanggal 4 April 2008, sebagai tugas mata kuliah Manajemen Media Massa oleh Dosen Mbak Novi Kurnia).

Perihal pijarpatricia
ADITYO KUSNADI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: