Duff McKagan dan Di Tepian Jurang Kematian

Pesawat pribadi, lautan minuman keras, bergunung-gunung narkoba dan dikelilingi wanita-wanita cantik selama 12 tahun bermain bass bersama Guns N’ Roses, hidupnya dipenuhi mimpi tentang Rock N’ Roll. Ketika rambutnya sudah mulai rontok, jari-jarinya mulai berdarah ketika bermain bass dan segala sesuatunya berubah menjadi mimpi buruk. Dia hampir tidak bisa bertahan, dia menceritakan kehidupannya tersebut dalam autobiografi terbarunya, dia menceritakan bagaimana dia di tepian kehidupan yang sudah terlalu dekat dengan kematian.

Majalah Maxim edisi Oktober 2011 mencuplik beberapa kisah Duff McKagan  sebagai berikut :

Saya banyak mengenal teman-teman sesama pecandu narkoba, banyak diantara mereka yang telah tewas karenanya atau hidup dalam kesengsaraan dalam hari-harinya. Tapi diantara teman-teman saya juga banyak yang bersih dan bermain musik dengan indah dan tentu masa depan mereka akan lebih terarah dengan ini. Saya tidak pernah menetapkan atau merencanakan untuk menjadi seorang pecandu narkoba atau alkoholik. Beberapa diantara kami yang dulu sebagai pecandu narkoba bisa bersih dan kembali hidup normal, namun jangan lupa bahwa perjuangan itu terlalu berat dan banyak yang tidak pernah bisa terlepas.

Ketika Guns N’ Roses menjadi terkenal di seluruh dunia, saat itu pula nama saya terkenal sebagai raja Vodka. Saya ingat pada tahun 1988 saat sebuah konser MTV, Axl Rose mengenalkan saya kepada public sebagai Duff “the King of Beers” McKagan. Segera setelah itu sebuah perusahaan produksi film animasi kartun menanyakan kepada saya apakah mereka bisa menggunakan nama “Duff” untuk sebuah merek bir dalam film kartun tersebut. Saya tertawa terbahak-bahak dan berkata tentu saja, tidak ada masalah. Semuanya terdengar seperti proyek murahan maksud saya begitu mudahnya nama saya muncul dikartun tersebut. Saya sedikit tahu tentang The Simpson dan bahwa dalam beberapa tahun saya akan membawa gelas dan botol bir dimanapun kami tur.

Hari-hari dalam tur konser kami saat itu diikuti oleh kru yang sangat minim, tanpa pesawat pribadi dan semua itu demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Saat itu memang sangat berbeda ketika kami menghabiskan 28 bulan dalam 1991-1993 Use Your Illusion Tour yang membawa lebih dari 100 staf crew. Kami tidak hanya membawa penyanyi latar perempuan, pemain seksofon, dan pemain keyboard tambahan, tetapi kami juga membawa tukang pijat professional, seorang pelatih vocal, seorang seniman tato dan orang-orang yang membersihkan panggung. Setiap orang dari kami memiliki sopir dan pengawal. Malam setelah konser kami biasanya berpesta, kadang dengan perjudian.

Mengingat apa yang saya lihat,. Reputasi untuk minum tidak tampak seperti masalah besar. Tapi dengan tur Use Your Illusion, asupan saya telah mencapai proporsi terlalu berlebihan. Untuk tur GNR disewa pesawat pribadi. Itu bukan sebuah jet eksekutif, dengan lounge dan kamar tidur pribadi untuk anggota band.

Tidak jelas lagi apakah saya termasuk orang yang bisa bereksperimen (dengan narkoba) di masa mudanya dan berhasil hidup bersih saat ini.

Setiap hari Aku memastikan aku punya botol vodka di samping tempat tidurku ketika aku terbangun. Aku mencoba untuk berhenti minum pada tahun 1992, tapi mulai lagi dengan sepenuh hati setelah hanya beberapa minggu. Aku hanya tidak bisa berhenti, aku sudah terlalu parah kecanduan. Rambut saya mulai rontok, dan ginjal saya sakit ketika saya marah. Kulit di tangan dan kaki pecah-pecah, dan aku telah berbisul di wajah dan leherku. Aku harus memakai perban di bawah sarung tangan saya ketika bermain bass.

Ada banyak cara yang berbeda untuk keluar dari situasi seperti itu. Beberapa orang langsung pergi ke rehabilitasi, beberapa pergi ke tempat ibadah. Banyak diantara mereka yang memilih mati dan mengakhiri hidupnya.

Sepanjang tur Use Your Illusion, Aku telah merekam lagu-lagu sendiri,bekerja ke studio sana-sini. Proyek ini saya lakukan demi membunuh dan menghabiskan waktu saya daripada waktu saya habis bersama vodka, aku bahkan benar-benar tahu bahwa lagu-lagu saya tersebut akan digunakan suatu saat nanti atau tidak.

Saya telah menjadwalkan tur solo yang akan dimulai segera setelah tur GN’R  di dua pertunjukan terakhir di Buenos Aires, Argentina pada Juli 1993. Penampilan tur solo pertama saya di San Fransisco, LA dan New York dan kemudian menjadi pembuka untuk konser Scorpion di Eropa dan Inggris.

Axl  tahu bahwa saya akan merencanakan beberapa tur solo lagi, kemudian dia menelponku, “Apakah kamu sinting? Kamu seharusnya tidak melakukan itu.” Dia memarahiku.

“Itu yang saya lakukan,” kataku. “Saya bermain musik.”

Saya juga tahu bahwa jika aku tinggal di rumah saja tanpa melakukan apapun itu mungkin akan membuatku terperangkap lebih jauh ke narkoba. Saya hanya ingin keluar di jalan bersama teman-teman punk rock saya di Settle dan saya mempunyai kesempatan untuk melakukan tur bersama.

Tapi Axl benar. Sebelum tur pertama saya di San Francisco, maka istri saya Linda masuk ke belakang panggung dan berkelahi dengan gadis lain hingga kehilangan gigi. Darah terciprat mana-mana.

Aku melakukan tur  yang direncanakan sampai Desember 1993. Masih ada semangat untuk semua penonton, terutama di Eropa. Para penonton  tahu lagu-lagu saya dan bernyanyi bersama. Saat itu saya juga beralih dari Vodka ke Wine.

Tampaknya dengan beralih dari Vodka ke Wine terasa lebih baik, tetapi volume wine cepat melonjak sampai aku minum 10 botol sehari. Aku mulai mendapatkan dampak buruk dari wine, aku mulai mulas, tidak doyan makan, tapi tubuhku sangat membengkak, pipiku terasa lebih besar <tembem>, dan tubuhku merasa tak enak. </tembem>

(Untuk melihat perubahan tubuh Duff ini silakan download video-video konser GNR pada tahun 1993, maka wajah Duff terlihat lebih tembem, dengan rambut yang dipotong lebih pendek daripada tahun 1992).

Pada tanggal 31 Maret 1994, saya pergi ke LAX untuk melakukan penerbangan dari LA ke Seattle. Kurt Cobain sedang menunggu untuk mengambil penerbangan yang sama. Kami mulai berbicara. Dia baru saja keluar dari fasilitas rehabilitasi. Kami berdua kacau. Kami akhirnya mendapatkan kursi di samping satu sama lain dan berbicara sepanjang jalan, tapi kami tidak menyelidiki hal-hal tertentu. Aku berada di dalam dunia neraka saya, ia pun sama halnya denganku keadaannya, dan kami berdua sepertinya mengerti.

Ketika kami tiba dan pergi menuju pengambilan bagasi, pikiran itu terlintas di benakku untuk mengundang dia ke tempat saya. Saya merasa ia kesepian dan sendirian malam itu. Begitu juga denganku yang sama keadaannya dengannya. Tapi ada banyak orang terburu-buru menyerbu saya dan Kurt di Bandara. Aku berada di sebuah band rock besar, dia berada di sebuah band besar. Akhirnya kami bisa lepas dari kejaran mereka. Saya kehilangan pikiran saya sejenak,dan Kurt menyelinap keluar untuk menunggu limo.

Beberapa hari kemudian manajer saya menelepon, memberi tahu Kurt Cobain ditemukan tewas di rumahnya Seattle setelah menembakkan pistol ke kepalanya. Aku malu untuk mengatakan bahwa setelah mendengar berita yang saya hanya merasa mati rasa. Saya tidak mengangkat telepon lagi dan segera menelepon Dave Grohl dan Krist Novoselic.

Saya pikir belasungkawa saya tidak akan berarti pula, Karena beberapa tahun sebelumnya Guns N’ Roses dan Nirvana masuk dalam penghargaan MTV Music Award dan di belakang panggung  dalam keadaan mabuk saya saling mengecam kepada Krist Novoselic (Bassis Nirvana).  Setelah Kurt tewas, Aku merasa begitu rendah. Sekarang aku merasa lebih rendah masih,menatap telepon, tidak mampu menelepon untuk meminta maaf atas insiden sebelumnya dan untuk memberikan rasa simpati saya untuk kehilangan Kurt.

Pada pagi hari 10 Mei, aku terbangun di tempat tidur baru saya dengan rasa sakit yang perih di perut saya. Sakit bukan hal baru bagi saya, Tapi ini berbeda  Rasa sakit ini tak terbayangkan, seperti seseorang mengambil pisau tumpul dan memukulkannya di perut saya. Rasa sakit itu begitu kuat sampai saya tidak bisa bahkan sampai ke tepi tempat tidur untuk menghubungi 911. Aku beku dalam kesakitan dan ketakutan, merintih.

Tak pernah sebelumnya dalam hidupku, aku ingin seseorang untuk membunuh saya, agar saya terlepas dari penderitaan ini.

Lalu aku mendengar Andy, sahabatku sejak kecil, datang di pintu belakang. Ia menyebut, “Hei, ada apa,” Andy berada di lantai bawah dan aku di kamar lantai atas. Aku ingin menjawab. Tapi aku tidak mampu. Aku mendengar dia mulai menaiki tangga.

“Oh, sialan, itu akhirnya terjadi,”  katanya ketika ia tiba di kamar saya.

Aku bersyukur punya teman di sana. Hal itu menghibur untuk berpikir saya akan mati di depan Andy. Tapi ia punya gagasan lain. Dia mengusap beberapa keringat saya dan mulai mencoba untuk menggerakkan saya. Dia pasti merasakan sentakan adrenalin-jika dia tidak ada cara bisa membawa 200 pon berat tubuh membengkak mati saya jika saya mati di depan dia. Saat ia membawaku menuruni tangga dan masuk ke mobilnya, rasa sakit, membakar menusuk dalam usus saya menyebar lebih lanjut ke paha depan saya dan sekitar untuk punggung bagian bawah. Saya ingin mati.

Aku punya Dokter  pribadi yang tinggal hanya dua blok jauhnya dari rumahku, sehingga Andy membawa saya ke sana. dokter Brad Thomas mulai memeriksa saya, saya disuntik Demerol, rasa sakit saya terus menyebar, dan aku mulai panik. Aku mengerang saat semangat saya untuk hidup mulai memudar.

.

Mereka memutuskan untuk buru-buru membawaku ke UGD di Northwest Hospital. DokterThomas mengatakan Andy untuk membawa saya dengan mobilnya karena akan lebih cepat daripada harus menunggu ambulans. Andy mengemudikan mobil secepat mungkin sedangkan saya mengerang di sepanjang perjalanan mehahan sakit.

Ketika mereka menempatkan infus morfin ke lengan kiri saya di rumah sakit, staf di rumah sakit menanyakan beberapa pertanyaan ke saya, namun saya tidak bisa menjawabnya karena saya sedang menahan sakit yang amat sangat. Andy yang kemudian menjawab semua pertanyaan itu, tentang nama, umur dan perilaku buruk saya meminum vodka.

Dokter Thomas dan teknisi berlari dan segera menscanner organ saya, dan saya melihat wajah dokter dia berkata bahwa Pankreas, yang membengkak seukuran bola sepakbola yang diakibatkan dari semua minuman keras, telah pecah. Aku telah berada di kondisi stadium tingkat tiga kerusakan pancreas.

Seorang ahli bedah dengan kacamata tebal melakukan operasi. Mereka harus mengambil bagian atas dari pankreas dan memotongnya.

 

 ———————–

Penutup

Ketika Duff sudah sembuh, dia diancam oleh dokter pribadinya yang berkata, “Silakan anda berpesta Vodka sekali lagi, maka anda akan segera tewas.”   Duff tampaknya mengerti, dan dia sungguh tidak mau nasibnya akan berakhir tragis entah bunuh diri  seperti Kurt Cobain atau overdosis seperti kawan-kawan lamanya dahulu. Kematian Kurt sebelumnya sedikit banyak mempengaruhi Duff untuk lebih takut mati.

Setelah Duff sembuh dari pancreas yang pecah, duff segera kuliah selama dua tahun di SeattleUniversity dan mendapatkan gelar di bidang keuangan.  Duff juga sering mengisi kolom rubric keuangan di Seatlle Weekly.

Buku autobiografi ini ditulis Duff sejak ulang tahun putrinya yang ke-13, dan mulai diedarkan pada pertengahan tahun ini. Buku ini melengkapi koleksi kisah hidup mantan personel GNR lainnya yaitu Slash yang sudah menerbitkan kisah hidupnya dan baru-baru ini Steven Adler juga menerbitkan kisahnya lewat  “My Appetite for Destruction: Sex, and Drugs, and Guns N’ Roses”, yang dirilis pada Juli 2010 yang lalu.

Semua kisah mereka pada intinya sama, yaitu bercerita tentang kisah sukses dan penderitaan mereka dengan narkoba. Mereka pasti berharap agar para generasi muda tidak akan terjerumus kepada narkoba, hal yang membuat mereka pernah sengsara dan hampir mati. Tidak banyak diantara para musisi yang dulu seorang junkies berat dan alkoholik berat bisa lepas dan bersih dari itu, banyak pula diantara mereka yang gagal dan akhirnya tewas.

Kisah mereka membuka mata kita, dan saya teringat akan kata bijak dari HG Bohn,  “Orang bijak akan belajar dari kesalahan orang lain, namun orang bodoh belajar dari kesalahannya sendiri.”  Mereka telah berbuat kesalahan dalam hidupnya, kita bisa belajar dari mereka tanpa harus pernah berbuat kesalahan itu, bukankah kata bijak berkata, “Pengalaman itu adalah guru paling buruk, karena memberikan ujian sebelum pelajaran dimulai.”   Dan kita pun bisa belajar dari pengalaman orang lain, tanpa harus pernah mengalaminya sendiri.

Ya, semoga generasi muda yang ngefans sama mereka tak perlu meniru hal-hal negative yang mereka pernah alami.

Eksternal link :

http://www.maxim.com/amg/MUSIC/Articles/GunsNRoses+Nearly+Killed+Duff+McKagan

http://www.roadrunnerrecords.com/blabbermouth.net/news.aspx?mode=Article&newsitemID=163089

http://www.roadrunnerrecords.com/blabbermouth.net/news.aspx?mode=Article&newsitemID=163841

About these ads

Perihal pijarpatricia
ADITYO KUSNADI a.k.a PIJAR PATRICIA. SUKOHARJO, 11 DESEMBER 1987.

One Response to Duff McKagan dan Di Tepian Jurang Kematian

  1. Ping-balik: Don’t Cry dan Perseteruan Axl Rose VS Kurt Cobain « Pijarpatricia's Weblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: